Senin, 13 Agustus 2007
BEJ Luncurkan Indeks Kompas100
Direktur Utama Erry Firmansyah mengatakan, indeks ini merupakan kerjasama dengan harian Kompas untuk melakukan penilaian 100 emiten yang dimasukkan dalam indeks ini.
"Tapi ini tidak menutup kemungkinan bekerjasama dengan media lain untuk menciptakan indeks baru," jelasnya.
Menurut Erry, indeks ini diharapkan bermanfaat bagi pemodal dalam mengelola portofolio investasinya.
Selain itu, tambahnya, indeks ini juga dapat digunakan fund manager yang akan menggunakannya sebagai acuan dalam menciptakan kreativitas pengelolaan dana yang berbasis saham.
Dalam menentukan emiten yang masuk ke "Indeks Kompas100" ini lebih berdasarkan frekuensi transaksi, nilai transaksi, kapitalisasi pasar, fundamental dan performa kinerja emiten.
"Perhitungan ini sama dengan perhitungan Indeks LQ45, namun ditambah fundamental dan performa emiten," ujarnya.
Dia juga menambahkan bahwa saham yang masuk "Indeks Kompas100" bisa masuk indeks LQ45, namun saham LQ45 tidak bisa otomatis masuk ke indeks 100 ini.
Ke-100 saham yang masuk dalam "Indeks Kompas100" ini adalah saham yang memiliki kode perdagangan:
1. Astra Agro Lestari (AALI),
2. Adhi Karya (ADHI),
3. Polychem Indonesia (ADMG),
4. AKR Corporindo (AKRA),
5. Aneka Tambang (ANTM),
6. Apexindo Pratama Duta (APEX),
7. Arpeni Pratama Ocean Line (APOL),
8. Astra Graphia (ASGR),
9. Astra Internasional (ASII),
10. Bank BCA (BBCA),
11. Bank Bukopin (BBKP),
12. Bank BRI (BBRI),
13. Bank Century (BCIC),
14. Bank Danamon (BDMN),
15. Bhakti Investama (BHIT),
16. Bukit Sentul (BKSL),
17. Berlian Laju Tangker (BLTA),
18. Bank Mandiri (BMRI),
19. Global Mediacom (BMTR),
20. Bank Bumi Artha (BNBA),
21. Bakrie Brothers (BNBR),
22. Bank Niaga (BNGA),
23. Bank Internasioal Indonesia (BNII),
24. Bank Permata (BNLI),
25. Barito Pasific (BRPT),
26. Bakrie Telekom (BTEL),
27. Budi Acid (BUDI),
28. Bumi Resources (BUMI),
29. Clipan Finance (CFIN),
30. Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP),
31. Charoen Pokphand Indonesia (CPIN),
32. Central Proteinaprima (CPRO),
33. Ciputra Development (CPRO),
34. Ciputra Surya (CTRS),
35. Davomas (DAVO),
36. Bakrieland Development (ELTY),
37. Energi Mega Persada (ENRG),
38. Enseval Putra (EPMT),
39. Fajar Surya (FASW),
40. Mobile-8 (FREN),
41. Gudang Garam (GGRM),
42. Gajah Tunggal (GJTL),
43. Indonesia Air Transport (IATA),
44. Indosiar Karya Media (IDKM),
45. Igarjaya (IGAR),
46. Indofarma (INAF),
47. Inco Indonesia (INCO),
48. Indofood Sukses Makmur (INDF),
49. Indah Kiat (INKP),
50. Indocement (INTP),
51. Indosat (ISAT),
52. Jakarta Internasional (JIHD),
53. JAPFA Comfed (JPFA),
54. Jaya Pari Steel (JPRS),
55. Kima Farma (KAEF),
56. Kawasan Industri Jababeka (KIJA),
57. Kalbe Farma (KLBF),
58. Lippo Karawaci (LPKR),
59. London Sumatera (LSIP),
60. Lautan Luas (LTLS),
61. Mitra Adiperkasa (MAPI),
62. Multistrada (MASA),
63. Modernland Realty (MDRN),
64. Medco (MEDC),
65. Nusantara Infrastructure (META),
66. Multi Indocitra (MICE),
67. Multipolar (MLPL),
68. Matahari Putra Prima (MPPA),
69. Metrodata (MTDL),
70. Mayora (MYOR),
71. Perusahaan Gas Negara (PGAS),
72. Jaya Ancol (PJAA),
73. Panin Bank (PNBN),
74. Panin Insurance (PNIN),
75. Panin Life (PNLF),
76. Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA),
77. New Century Development (PTRA),
78. Ramayana Lestari Sentosa (RALS),
79. Radiant Utama (RUIS),
80. Siread Produce (SIPD),
81. Holcim Indonesia (SMCB),
82. Semen Gresik (SMGR),
83. Sinarmas Multiartha (SMMA),
84. Summarecon Agung (SMRA),
85. Indo Acidatama (SRSN),
86. Sumalindo (SULI),
87. Tunas Baru Lampung (TBLA),
88. Timah (TINS),
89. Tjiwi Kimia (TKIM),
90. Telkom Indonesia (TLKM),
91. Tempuran Emas (TMAS),
92. Total Bangun Persada (TOTL),
93. Trimegah Securities (TRIM),
94. Trias Sentosa (TRIAS),
95. Truba Alam Manunggal (TRUB),
96. Tempo San Pasific (TSPC),
97. Bakrie Sumatra Plantations (UNSP),
98. United Tractors (UNTR),
99. Unilever (UNVR),
100.Wahana Ottomitra Multiartha (WOMF).
(Ant/Ol-03)
Sumber: Media Indonesia Online, Jumat, 10 Agustus 2007, 13:28 wib
"Kompas" "Masuk" Bursa Efek Jakarta
Jakarta, Kompas - Menandai peringatan 30 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia, Jumat (10/8), Bursa Efek Jakarta bekerja sama dengan harian Kompas meluncurkan indeks harga saham yang dinamakan indeks Kompas100.
Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama menekan bel tanda dimulainya perdagangan saham pada hari Jumat itu, sekaligus menandai diluncurkannya indeks baru tersebut. Hal ini merupakan peristiwa langka karena pembukaan perdagangan saham biasanya dilakukan pejabat negara, seperti Presiden, Wakil Presiden, dan Menteri Keuangan. Baru kali ini pula dalam membuat indeks harga saham, Bursa Efek Jakarta (BEJ) bekerja sama dengan media massa. Hal serupa sudah lama dilakukan di negara maju, seperti Jepang, Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura.
Sebagaimana indeks lainnya, seperti indeks harga saham gabungan (IHSG) dan LQ45, indeks Kompas100 yang memuat 100 saham unggulan di BEJ juga merupakan acuan dalam melihat arah pergerakan pasar dan acuan investor dalam mengatur portofolio investasi sahamnya.
Sebelum menekan bel perdagangan, Jakob Oetama menyatakan, peristiwa tersebut penting artinya bagi Kompas karena ini merupakan kehormatan bagi Kompas yang dipercaya untuk digunakan namanya sebagai acuan, indeks di bursa saham.
"Setiap kehormatan adalah tanggung jawab. Kompas ikut menjadi bagian dari pasar modal adalah suatu kepercayaan. Dan, kepercayaan itu harus diuraikan dalam pekerjaan profesional (jurnalistik), yakni akurasi. Semoga Kompas tidak mengecewakan Saudara sekalian," ujar Jakob disambut tepuk tangan pialang di lantai bursa.
Lembaga swasta, seperti halnya BEJ dan Kompas, menurut Jakob, merupakan salah satu pilar kemajuan ekonomi bangsa. Bursa efek, salah satu unsur dalam pilar tadi, berperan mendorong perusahaan negara ataupun swasta untuk berperan dalam kemajuan perekonomian.
Tujuan akhir kemajuan ekonomi Indonesia, menurut dia, harus meningkatkan kesejahteraan, kemakmuran semua warga, terutama yang ketinggalan.
Pilar negara
Dalam sistem ekonomi pasar sosial, sebagaimana yang berlaku di negara ini, menurut Jakob, pilar lain yang tak kalah penting perannya adalah negara. Dalam sistem ekonomi itu, negara tetap punya kewenangan campur tangan, terutama untuk melindungi yang lemah.
Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Jakob Oetama senantiasa menyebut satu pilar lainnya dalam tiga pilar ekonomi pasar sosial, yakni masyarakat madani (civil society). Ketiga pilar itu harus memainkan perannya dalam satu panggung secara bersama-sama.
Acuan
Direktur Utama BEJ Erry Firmansyah mengatakan, peluncuran indeks Kompas100 merupakan wujud komitmen bersama dua lembaga dalam pengembangan pasar modal Indonesia. Indeks baru ini, katanya, diharapkan bermanfaat bagi pemodal dalam mengelola portofolio investasinya. Juga bagi pengelola dana (fund manager) yang akan menggunakannya dalam menciptakan kreativitas (inovasi) pengelolaan dana yang berbasis saham.
Proses pemilihan 100 saham yang termuat dalam indeks Kompas100 mempertimbangkan frekuensi transaksi, nilai transaksi, kapitalisasi pasar, serta kinerja fundamental dari saham-saham tersebut.
Indeks ini akan melengkapi informasi mengenai perkembangan pasar saham pada umumnya dan perkembangan harga masing-masing saham khususnya.
"Diharapkan pula dapat memberi pedoman bagi pemodal dalam melakukan pilihan investasi di pasar modal, yang pada akhirnya akan meningkatkan likuiditas transaksi di BEJ," katanya.
Pada hari pertama kehadirannya, indeks Kompas100 mencatat penurunan 1,6 persen dari posisi 563,464 menjadi 554,217 poin. Seluruh indeks saham di BEJ juga turun, seperti halnya IHSG yang turun 1,55 persen dan LQ45 turun 1,51 persen.
Indeks-indeks saham di bursa negara di kawasan Asia juga melorot lebih tajam, mulai dari 2 persen sampai 4 persen.
Kejatuhan indeks saham itu dipicu anjloknya indeks bursa saham London dan New York sebelumnya, akibat kekhawatiran investor soal kredit macet perumahan di AS, setelah bank terkemuka Perancis, BNP Paribas, menghentikan sementara tiga unit dana (fund) miliknya yang terkena dampak kredit macet di AS sehingga kesulitan menghitung nilai aktiva. (DIS).
Sumber: Harian Kompas, Minggu, 12 Agustus 2007
Kompas-100, Ikon Baru BEJ
Andi Suruji
Melengkapi berbagai acuan investasi yang telah ada bagi investor dan pelaku pasar modal, Bursa Efek Jakarta akan meluncurkan satu lagi indeks harga saham, yang disebut Kompas-100. Peluncurannya dilakukan Jumat (10/8) ini, bertepatan dengan peringatan 30 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia.
Peluncuran indeks Kompas-100 ini tentu merupakan catatan penting bagi Kompas, juga pasar modal dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Inilah pertama kalinya BEJ dalam membuat indeks, bermitra dengan media. Indeks ini bahkan diharapkan menjadi ikon baru pasar modal Indonesia.
Indeks Kompas-100 akan memuat 100 saham yang dipilih melalui beberapa kriteria. Saham-saham yang terpilih, selain memiliki likuiditas yang tinggi, serta nilai kapitalisasi pasar yang besar, juga merupakan saham-saham yang memiliki fundamental dan kinerja yang baik.
Saham-saham yang termasuk dalam Kompas-100 diperkirakan mewakili sekitar 70-80 persen dari total Rp 1.582 triliun nilai kapitalisasi pasar seluruh saham yang tercatat di BEJ. Dengan demikian, tentu dengan mencermati 100 saham saja, investor sudah bisa melihat kecenderungan arah pergerakan indeks. Akan tetapi, ini bisa saja berlawanan arah dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) maupun indeks lainnya.
"Kalau dilihat di belahan dunia lain, banyak media bermitra dengan bursa membikin indeks. Lalu kita mengapa tidak?" ujar Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta Erry Firmansyah.
Adapun pilihan BEJ jatuh kepada Kompas, ia mengatakan, pertimbangannya karena surat kabar ini dinilai memiliki reputasi yang bagus dan dibaca masyarakat secara luas.
"Harapan kami, dengan adanya indeks yang menggandeng Kompas, informasi pasar modal bisa menyebar lebih meluas lagi. Menggairahkan masyarakat untuk mengambil manfaat dari keberadaan BEJ, baik untuk investasi maupun mencari pendanaan bagi perusahaan dalam mengembangkan perekonomian nasional," kata Erry Firmansyah.
Adapun manfaat dari keberadaan indeks ini, yakni adanya acuan (benchmark) baru bagi investor untuk melihat ke arah mana pasar bergerak dan kinerja portofolio investasinya. Pelaku industri pasar modal juga akan memiliki acuan baru dalam menciptakan produk-produk inovasi yang berbasis indeks, misal mengacu pada indeks Kompas-100.
Menambah pilihan
Direktur Schroder Indonesia, Michael Tjoajadi menilai, diluncurkannya indeks Kompas-100 jelas akan menambah pilihan bagi manajer investasi untuk meluncurkan produk-produk baru. Ke depan, juga bisa menambah pilihan bagi pengelola pasar untuk mengembangkan pasar berjangka (futures market).
Manajer investasi pun bisa menerbitkan reksa dana saham yang portofolionya hanya saham-saham yang terdaftar dalam indeks Kompas-100.
BEJ memang telah memiliki banyak indeks. Selain IHSG yang memuat seluruh saham yang tercatat di BEJ, juga ada indeks sektoral. Indeks LQ-45 atau Jakarta Islamic Index yang memuat saham-saham perusahaan yang dalam operasionalnya dapat dikategorikan menerapkan prinsip-prinsip syariah.
Meskipun telah banyak jumlahnya, indeks tersebut dinilai belum juga dapat mengakomodasikan semua kepentingan dan kebutuhan pemodal maupun pelaku pasar lainnya. Indeks LQ-45 misalnya, dinilai sempit cakupannya karena hanya memuat 45 saham, walaupun ke-45 saham tersebut tergolong paling likuid atau paling sering diperdagangkan.
Ada pula yang terlalu luas cakupannya, misal IHSG karena seluruh 300-an saham, yang "tidur" tak diperdagangkan berbulan-bulan sekali pun, tetap dimasukkan dalam perhitungan indeks.
Indeks-indeks harga saham bursa terkemuka umumnya dibentuk dengan menggandeng nama surat kabar besar di negaranya. Di Wall Street, sebutan untuk bursa saham New York, Amerika Serikat, karena beralamat di jalan yang bernama Wall Street, salah satu indeksnya yang sangat terkenal adalah Dow Jones, penerbit surat kabar Wall Street Journal.
Indeksnya kemudian dinamakan Dow Jones Industrial Average (DJIA), yang memuat 30 saham unggulan atau blue chip. The DJIA yang diperkenalkan tahun 1896 oleh Charles H Dow kini seolah jadi ikon pasar modal seluruh dunia.
Begitu juga bursa saham London, Inggris, memiliki Financial Times Index, yang mengambil nama surat kabar ekonomi terkemuka Financial Times. Jepang pun demikian dengan indeks Nikkei yang dikelola surat kabar ekonomi bertiras paling besar di Jepang. Bursa saham Singapura juga menggunakan nama surat kabar Strait Times sebagai nama indeks harga saham.
Memang banyak manajemen bursa saham yang mengelola sendiri indeksnya. Namun, ada juga indeks yang dikelola oleh surat kabar yang menerbitkannya. Indeks Nikkei-225 misalnya, yang memuat 225 saham terbaik di Tokyo Stock Exchange, dikelola sendiri oleh koran Nihon Keizai Shimbun (Nikkei).
"Keabadian"
Di balik penggunaan namanya sebagai ikon pasar modal Indonesia, tentu terdapat pula tanggung jawab berat bagi Kompas. Sebagaimana eksistensinya dalam perekonomian suatu negara, bursa saham dengan segala macam indeksnya merupakan suatu tekad "keabadian" atau setidaknya keberlanjutan hidup untuk suatu jangka waktu yang sangat lama.
Spirit ini diharapkan memacu upaya perbaikan terus-menerus bagi pemilik dan seluruh jajaran pekerja Kompas, juga pengelola bursa saham untuk menggapai "keabadian" tersebut.
Kompas, selain nama surat kabar ini, juga berarti petunjuk arah. Sementara, angka 100 biasanya jadi acuan nilai untuk suatu pekerjaan yang sempurna, cerminan tingkat akurasi yang prima. Sebagai indeks harga saham, Kompas-100 tentu diharapkan menjadi petunjuk bagi investor dalam mencapai hasil investasi yang optimal.
Sunber: Harian Kompas, Jumat, 10 Agustus 2007
