Selasa, 21 Agustus 2007

Pasar Mulai Menguat

Bank Sentral AS Terus Kucurkan Dana

Jakarta, kompas - Setelah tertekan sangat dalam selama berhari-hari, pasar saham Jakarta, Senin (20/8), mencatat kenaikan harga saham yang cukup signifikan, seperti yang diduga semula. Investor asing pun sebagai pembeli neto.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 132,949 poin atau 6,96 persen menjadi 2.041,584, sedangkan indeks Kompas100 yang memuat 100 jenis saham melompat lebih tinggi sebesar 7,45 persen.

Kegairahan pemodal kemarin ditandai frekuensi transaksi yang mencapai 54.366 kali, memindahkan 4,46 miliar saham senilai Rp 4,7 triliun.

Dari 244 saham yang berpindah tangan, tercatat hanya 13 saham yang turun harganya, cuma sembilan saham yang tidak berubah, sedangkan yang meningkat harganya mencapai 220 saham.

Investor asing mencatat transaksi beli senilai Rp 1,04 triliun, sedangkan transaksi jualnya hanya Rp 844 miliar sehingga mereka dalam posisi beli secara neto (net buying) senilai Rp 197,7 miliar.

Semua pasar di kawasan Asia juga mencatat kenaikan yang cukup signifikan. Reaksi positif pelaku pasar masih menanggapi langkah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), pekan lalu yang memotong tingkat suku bunga diskonto sebesar 50 basis poin menjadi 5,75 persen. Lebih dari itu, jangka waktu pinjaman pun diperpanjang dari hanya sehari menjadi 30 hari.

Langkah tersebut bertujuan agar suku bunga yang dikenakan bank sentral kepada bank-bank komersial lebih murah sehingga akan mempermudah bank dalam memberikan pinjaman. Langkah itu juga sebagai tindak lanjut bank sentral yang telah menginjeksi dana 97,5 miliar dollar AS lebih ke pasar uang akibat ketatnya likuiditas.

Ketika berita ini diturunkan semalam, di London dan Paris indikator utama harga saham naik 1,0 persen pada pembukaan perdagangan, setelah pasar Tokyo ditutup naik 3,0 persen. Sementara indeks Dow Jones Industrial di bursa saham New York dibuka dengan kenaikan 0,36 persen, Nasdaq dibuka dengan kenaikan 0,33 persen pada perdagangan Senin pagi atau Senin malam di Jakarta.

Hal ini terkait dengan langkah The Fed yang kembali menyuntikkan dana ke pasar uang senilai 3,5 miliar dollar AS guna mengatasi kesulitan likuiditas di pasar uang. Sejauh ini The Fed telah mengguyur pasar uang dengan dana sebesar 97,5 miliar dollar AS, sejak pasar saham bergejolak 9 Agustus akibat terimbas persoalan kredit macet perumahan (subprime mortgage) yang merontokkan banyak pengelola dana investasi di Eropa, Perancis, Australia, dan AS sendiri yang menanamkan dananya pada surat berharga yang berbasis kredit perumahan tersebut.

Menurut Kepala Riset Eurocapital Peregrine Poltak Hotradero, pasar masih akan berfluktuasi. Kenaikan yang terjadi sekarang belum tentu berlangsung lama. "Ini disebabkan karena masih besarnya pengaruh kredit macet perumahan di Amerika Serikat, yang membuat pasar masih terus waspada," katanya.

Ke depan, pasar juga harus mewaspadai kemungkinan melemahnya perekonomian Amerika Serikat yang selanjutnya dapat berdampak pada melambatnya perekonomian China. "Amerika Serikat merupakan konsumen terbesar produk China. Jika perekonomian melemah, tentu ekspor China akan menurun," katanya.

Selanjutnya, menurut Poltak, negara pengekspor bahan mentah ke China juga akan terkena dampak, seperti Indonesia dan Australia.

"Dampak dari kebijakan yang diambil oleh Bank Sentral AS kan hanya untuk jangka pendek. Apa yang bisa dilakukan oleh otoritas bursa di Indonesia agar saat pasar turun kita tidak terperosok terlalu dalam adalah menyiapkan instrumen lindung nilai (hedging) untuk mengurangi risiko ke depan," kata Poltak.

Tergantung AS

Sementara itu, Menko Perekonomian Boediono mengatakan, kondisi pasar keuangan domestik yang membaik merupakan dampak langkah Federal Reserve menurunkan suku bunga diskontonya. Pemerintah tidak bersedia berspekulasi atas kondisi pasar setelah ini karena perbaikan pasar keuangan global sangat tergantung langkah-langkah yang dilakukan Amerika Serikat sebagai sumber utama permasalahan.

"Saya harapkan ini merupakan awal dari perbaikan. Kami akan bersiap-siap saja dan melakukan langkah-langkah antisipatif," katanya. (AFP/OIN/TAV/DIS)


Sumber: Kompas.com edisi cetak 21 Agustus 2007